Saat ini banyak perusahaan yang telah menerapkan sistem hybrid. Hal ini bermula sejak adanya pandemi COVID-19 dan pemerintah mewajibkan untuk membatasi mobilitas di luar rumah. Hingga akhirnya perusahaan membuat sistem kerja hybrid, yaitu dengan memberikan hari-hari tertentu sebagai jadwal kerja, dan memberikan kebebasan karyawan untuk bekerja di kantor maupun di rumah. Meski begitu, banyak perusahaan yang akhirnya khawatir karena beberapa karyawan justru sulit dijangkau ketika melakukan WFH. Lalu bagaimana cara sukses menjalankan sistem hybrid

Tentukan OKR yang Jelas

Masalah yang sering dialami karyawan ketika bekerja dari rumah atau dari mana saja adalah sulitnya memahami ekspektasi dari rekan kerja, maupun mengomunikasikan prioritas diri sendiri. Sehingga, pada akhirnya karyawan menjadi terbiasa merespon segala bentuk interupsi karena dianggap memiliki urgensi tinggi. Padahal, tidak semua interupsi tersebut perlu diprioritaskan dan ada juga beberapa yang perlu diprioritaskan untuk segera diselesaikan. Nah, disinilah pentingnya memiliki objectives and key results (OKR) yang jelas.

Dengan adanya OKR yang jelas dan detail, karyawan bisa mengetahui mana saja pekerjaan yang perlu diprioritaskan dan mana yang bisa dikerjakan nanti. Sehingga, OKR inilah yang nantinya bisa membantu karyawan untuk berkata “tidak” atau menolak ketika menerima interupsi dari rekan kerja tertentu, sehingga risiko burnout karyawan pun bisa diminimalisir.

Tetapkan Tujuan Sebelum Meeting

Banyak karyawan yang mengeluhkan online meeting tiada henti ketika melakukan hybrid working. Dengan alasan online meeting mudah dilakukan dan praktis, namun terlalu banyak melakukannya bisa membuat karyawan mengalami keletihan akibat harus fokus menyimak obrolan melalui layar selama berjam-jam. Kondisi ini dikenal dengan istilah video call fatigue.

Untuk mengurangi risiko ini, perusahaan atau pihak manajemen perlu menetapkan tujuan yang jelas sebelum online meeting. Selain itu, cobalah juga untuk menunjuk moderator atau pemandu khusus untuk memastikan online meeting berjalan sesuai rencana. Sehingga, meeting akan berjalan efisien tanpa membahas hal-hal di luar tujuan utama.

Berteman dengan Ketidaksempurnaan

Di tengah lingkungan kerja dengan dinamisme tinggi, wajar jika perusahaan dan karyawan berusaha memberikan hasil kerja sebaik mungkin. Beberapa karyawan bahkan bertekad mencapai “kesempurnaan” dalam bekerja. Padahal, ekspektasi terhadap kesempurnaan inilah yang sering menjadi pemicu burnout, terutama ketika hybrid working.

Perlu diketahui juga bahwa setiap orang memiliki arti kesempurnaan yang berbeda-beda ketika bekerja. Sesuatu yang menurut kamu sempurna, belum tentu sempurna di mata atasan atau klien. Jadi, cobalah berusaha untuk memberikan semaksimal mungkin sesuai kemampuan dan standar perusahaan. Dan jika belum sempurna, kamu bisa memperbaikinya di kemudian hari.

Memimpin dengan Empati

Pandemi merupakan kondisi yang berat bagi banyak orang, termasuk bagi karyawan. Di mana, mereka dituntut untuk selalu menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri serta keluarga. Sehingga, penting bagi perusahaan untuk memimpin perusahaan dengan empati pada karyawan. 

Empati disini bukanlah mengabaikan ketika karyawan melanggar aturan, namun bantulah mereka untuk sama-sama menjalani hybrid working di tengah situasi yang kurang ideal ini. JIka ada karyawan yang menunjukkan tanda-tanda burnout, perusahaan bisa memberikan izin cuti untuk beristirahat.

Atau ketika perusahaan menemukan karyawan yang memiliki performa menurun, cobalah ajak mereka mengobrol dalam sesi one-on-one untuk mengetahui penyebabnya. Walau terkesan sederhana, langkah-langkah ini bisa membantu terbentuknya budaya sehat di lingkungan hybrid working.

Tegaskan Batasan Pekerjaan & Kehidupan Pribadi

Kesejahteraan diri karyawan sangat bergantung pada keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi masing-masing karyawan. Artinya, walaupun bekerja dari rumah, bukan berarti karyawan harus bekerja seharian penuh. Cobalah minta karyawan untuk menetapkan jam kerja harian, kemudian komunikasikan kepada tim agar mereka tidak menghubungi untuk keperluan kerja di luar batas jam tersebut.

Misalnya, karyawan bisa menerapkan jam kerja mereka mulai dari jam 09.00 sampai jam 18.00. Sehingga di luar itu, tim atau atasan tidak diperbolehkan menghubungi karyawan. Dengan begitu, risiko burnout pun bisa berkurang.

Berikan Benefit yang Menarik

Ketika menjalankan kerja dengan sistem hybrid, banyak karyawan yang merasa burnout karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Banyak juga karyawan yang merasa pekerjaan ketika melakukan WFH lebih banyak dibanding ketika mereka pergi ke kantor. Oleh karena itu, salah satu cara sukses menjalankan sistem hybrid yang terakhir adalah dengan memberikan benefit yang menarik bagi seluruh karyawan.

Dengan adanya benefit karyawan yang menarik, karyawan bisa lebih produktif dalam menjalankan pekerjaannya di rumah maupun di kantor. Sehingga nantinya akan berdampak positif bagi perkembangan perusahaan.

Salah satu benefit yang bisa diberikan perusahaan karyawan adalah akses pembayaran gaji di muka. Dengan benefit satu ini, karyawan bisa mencairkan gaji kapan saja dan di mana saja tanpa perlu menunggu tanggal gajian. Sehingga, ketika karyawan membutuhkan dana darurat, maka karyawan tidak perlu khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhannya.

Untuk memberikan benefit pembayaran gaji di muka, perusahaan bisa memanfaatkan aplikasi KINI.id. Dengan KINI.id, perusahaan tidak perlu repot menghitung gaji yang telah dicairkan karyawan di tanggal gajian. Karena, di akhir bulan KINI.id akan memberikan laporan yang berisi dana-dana yang telah digunakan karyawan, sehingga mempermudah perusahaan dalam menghitung gaji karyawan sesuai dengan gaji yang telah mereka gunakan.