Cashflow Bukan Profit: Mengapa Bisnis Terlihat Untung, Namun Tetap Kekurangan Kas

Cashflow bukan profit. Pelajari alasan bisnis bisa tampak untung tetapi tetap kekurangan kas, serta langkah praktis untuk memperbaiki arus kas.

Dalam praktiknya, banyak bisnis terlihat “sehat” di laporan laba rugi, namun tetap mengalami kesulitan membayar kewajiban rutin. Situasi ini sering membuat pemilik usaha bingung: jika bisnis untung, mengapa kas selalu terasa menipis?

Jawabannya sederhana: profit (laba) dan cashflow (arus kas) adalah dua hal yang berbeda. Laba menunjukkan kinerja dalam periode tertentu, sedangkan arus kas menentukan apakah bisnis memiliki uang tunai yang benar-benar tersedia untuk operasional sehari-hari.

Cashflow Bukan Profit: Memahami Perbedaan Keduanya

Profit adalah selisih antara pendapatan dan biaya dalam suatu periode akuntansi. Dalam laporan laba rugi, penjualan dapat dicatat sebagai pendapatan meskipun pembayarannya belum diterima.

Cashflow adalah pergerakan uang nyata yang masuk dan keluar dari rekening bisnis. Arus kas menggambarkan kemampuan bisnis untuk membayar gaji, sewa, vendor, pajak, dan kebutuhan operasional lainnya tepat waktu.

Kesimpulan ringkasnya: Cashflow Bukan Profit

  • Bisnis bisa mencatat profit karena penjualan terjadi.
  • Namun kas tetap ketat karena uangnya belum diterima, atau pengeluaran terjadi lebih cepat dibanding pemasukan.

Mengapa Bisnis Bisa Untung Tetapi Tetap “Ngos-ngosan”?

1) Penjualan Kredit: Pendapatan Tercatat, Kas Belum Masuk

Pada bisnis B2B, transaksi sering terjadi dengan sistem invoice dan tempo pembayaran 14–60 hari. Secara akuntansi, pendapatan sudah tercatat. Namun kas baru diterima setelah pelanggan melakukan pembayaran.

Dampaknya: profit meningkat, tetapi saldo rekening tidak ikut naik.

Langkah perbaikan:

  • Tetapkan syarat pembayaran (payment terms) yang jelas sejak awal.
  • Pastikan invoice dikirim cepat (idealnya maksimal H+1 setelah pekerjaan/penyerahan selesai).
  • Terapkan jadwal penagihan (follow-up) yang konsisten.

2) Stok Terlalu Besar: Kas “Terkunci” di Persediaan

Persediaan yang tidak berputar cepat pada dasarnya adalah uang tunai yang berubah bentuk menjadi barang. Semakin banyak stok lambat, semakin besar kas yang tertahan.

Dampaknya: bisnis terlihat memiliki aset, tetapi kas sulit digunakan untuk kebutuhan harian.

Langkah perbaikan:

  • Evaluasi perputaran stok (inventory turnover) per kategori.
  • Kurangi SKU yang lambat dan prioritaskan produk dengan perputaran cepat.
  • Rancang program clearance untuk stok yang menumpuk.

3) Ketidaksesuaian Waktu Pemasukan dan Pengeluaran

Banyak bisnis menerima pembayaran lebih lambat, tetapi harus membayar:

  • gaji bulanan,
  • sewa,
  • vendor,
  • operasional dan logistik.

Jika pengeluaran terjadi lebih awal dibanding pemasukan, bisnis mudah mengalami tekanan kas meskipun secara laba masih positif.

Langkah perbaikan:

  • Negosiasikan tempo pembayaran vendor yang lebih longgar.
  • Pertimbangkan meminta uang muka (down payment) pada pelanggan tertentu.
  • Susun kalender arus kas untuk menghindari jatuh tempo yang menumpuk di waktu yang sama.

4) Belanja Modal (Capex) Tidak Tepat Waktu

Pengadaan aset seperti kendaraan, mesin, renovasi kantor, atau perangkat kerja dapat berdampak positif jangka panjang. Namun, apabila dilakukan ketika arus kas belum stabil, belanja modal dapat menjadi beban yang berat.

Langkah perbaikan:

  • Prioritaskan belanja yang berdampak langsung pada kapasitas produksi atau pendapatan.
  • Pertimbangkan skema sewa/leasing dibanding pembelian tunai.
  • Lakukan perencanaan capex berbasis arus kas, bukan hanya kebutuhan operasional.

5) Proses Penagihan Lemah (Collection Tidak Terstruktur)

Sering kali kendala bukan pada pelanggan yang tidak mau bayar, melainkan pada proses internal:

  • invoice terlambat dikirim,
  • dokumen pendukung tidak lengkap,
  • approval pelanggan tertunda,
  • tidak ada PIC yang jelas untuk penagihan.

Langkah perbaikan:

  • Tetapkan satu fungsi penagihan (PIC) dan SOP yang jelas.
  • Gunakan dashboard invoice: due, overdue, serta alasan penundaan.
  • Standarkan dokumen dan alur approval sebelum pekerjaan dilakukan.

6) Kebocoran Biaya Kecil yang Menumpuk

Diskon berlebihan, retur, barang rusak, biaya pengiriman yang tidak ditagihkan, hingga biaya operasional kecil yang tidak terkendali dapat menggerus kas secara perlahan.

Langkah perbaikan:

  • Audit transaksi terbaru untuk menemukan biaya yang seharusnya bisa ditagihkan.
  • Batasi diskon dengan kebijakan dan approval.
  • Analisis retur: pola penyebab dan tindakan pencegahan.

Cara Mengidentifikasi Sumber Masalah Arus Kas

Gunakan tiga pertanyaan berikut untuk memperjelas akar masalah:

  1. Jika semua pelanggan membayar tepat waktu, apakah kondisi kas masih ketat?
    Jika tidak, berarti isu utama ada pada tempo pembayaran dan collection.
  2. Jika penjualan turun 20% bulan depan, apakah bisnis masih mampu membayar kewajiban?
    Jika tidak, artinya cadangan kas dan struktur biaya terlalu rapuh.
  3. Uang paling banyak tertahan di mana: piutang, stok, atau proyek berjalan?
    Titik itulah yang perlu dibenahi terlebih dahulu.

Langkah Praktis Memperbaiki Cashflow dalam 14 Hari

Berikut pendekatan yang realistis dan mudah dieksekusi:

Hari 1–3: Pemetaan Kas

  • Daftarkan seluruh invoice: nominal, due date, dan status.
  • Identifikasi stok lambat (misalnya tidak bergerak 60–90 hari).
  • Buat daftar pengeluaran besar 30 hari ke depan.

Hari 4–7: Fokus pada Penagihan Paling Cepat Cair

Prioritaskan:

  • invoice overdue dengan nominal kecil-menengah (biasanya lebih cepat diselesaikan),
  • invoice yang tertahan karena dokumen,
  • pelanggan yang historinya membayar rutin tetapi sering terlambat.

Hari 8–10: Perbaiki “Aturan Main” ke Depan

  • Terapkan pembayaran di muka/DP untuk pelanggan atau proyek tertentu.
  • Wajibkan invoice dikirim maksimal H+1.
  • Pastikan dokumen dan alur approval selesai sebelum pekerjaan dimulai.

Hari 11–14: Kendalikan Pengeluaran Tanpa Mengganggu Operasional

  • Tunda pengeluaran yang tidak berdampak langsung pada pemasukan atau produksi.
  • Evaluasi biaya langganan, perjalanan dinas, dan pengeluaran “nice to have”.
  • Susun prioritas belanja berdasarkan urgensi dan dampak.

Cashflow Bukan Profit. Profit Menggambarkan Kinerja, Cashflow Menentukan Ketahanan

Profit adalah indikator penting, namun cashflow adalah faktor yang memastikan bisnis tetap bertahan dan mampu menjalankan operasional tanpa gangguan. Ketika bisnis terlihat untung tetapi kekurangan kas, penyebabnya biasanya bukan karena penjualan kurang, melainkan karena waktu penerimaan kas tidak sejalan dengan waktu pengeluaran, atau karena kas tertahan di piutang dan stok.

Dengan perbaikan disiplin penagihan, kontrol stok, serta penjadwalan pengeluaran, arus kas dapat menjadi jauh lebih stabil tanpa harus menunggu omzet “meledak” terlebih dahulu.

Ingin arus kas operasional lebih stabil tanpa mengganggu aktivitas bisnis? KINI membantu perusahaan menyusun solusi pembiayaan yang selaras dengan siklus kas Anda. Hubungi tim KINI untuk diskusi kebutuhan dan opsi yang paling sesuai.